
–
Oleh Dr. H. Boy Arief Rochman, S.Pt., M.A.B (Wakil Ketua II Bid. Administrasi & Keuangan)
Dalam perjalanan hidup manusia, pencarian ilmu adalah ibadah yang agung. Namun, tidak semua ilmu ditempuh dengan jalan yang sama. Ada ilmu yang ditanamkan melalui qalbu, dan ada pula yang diraih melalui akal dan pengamatan. Ilmu agama dan ilmu sains, meski keduanya adalah cahaya yang menerangi kehidupan, memiliki jalan dan sifat yang berbeda. Dalam pandangan sufistik, perbedaan ini bukan sekadar metodologi, melainkan hakikat dari sumber dan tujuan ilmu itu sendiri.
Ilmu Agama: Warisan Cahaya dari Rasulullah
Ilmu agama bukanlah hasil dari eksperimen atau observasi semata. Ia adalah warisan cahaya yang bersambung dari hati ke hati, dari guru ke murid, dari para wali dan ulama hingga Rasulullah ﷺ. Dalam tradisi tasawuf, ilmu agama disebut sebagai ‘ilm ladunni ilmu yang ditanamkan oleh Allah ke dalam hati hamba-Nya yang bersih. Ia tidak bisa diraih hanya dengan membaca buku atau menonton ceramah. Ia harus diserap dari seorang guru yang memiliki sanad, yaitu rantai transmisi yang bersambung secara ruhani dan ilmiah kepada Nabi.
Sanad bukan sekadar silsilah akademik. Ia adalah jaminan bahwa ilmu yang diterima bukan hanya benar secara lafaz, tetapi juga bersih secara makna. Dalam ilmu agama, terutama ilmu hakikat dan makrifat, seorang murid harus duduk di hadapan gurunya dengan adab, dengan hati yang tunduk, agar cahaya ilmu itu bisa masuk ke dalam qalbu. Sebab ilmu agama bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi.
Para sufi mengatakan bahwa ilmu agama adalah nur (cahaya) yang menerangi hati. Ia tidak bisa dipaksakan masuk ke dalam akal yang penuh logika duniawi. Ia harus ditanamkan melalui cinta (mahabbah), melalui pelayanan (khidmah), melalui pengosongan diri. (fana). Sebagaimana air tidak bisa mengisi gelas yang sudah penuh, demikian pula ilmu agama tidak bisa masuk ke dalam hati yang dipenuhi ego dan hawa nafsu.
Di Al-Falah Cicalengka, sanad ini dijaga dengan penuh adab dan ketekunan. Qira’at yang diajarkan bukan hanya bacaan, tetapi napas ruhani yang mengalir dari lisan ke lisan, dari qalbu ke qalbu. Begitu pula thariqah yang diamalkan, bukan sekadar wirid, tetapi jalan penyucian diri yang bersambung kepada para wali Allah kepada Rasulullah.
Sebagaimana disampaikan oleh Al-Habib Umar bin Hafizh, seorang ulama dan mursyid besar dari Hadramaut:
“Wahai pemilik amanah, jagalah amanah Tuhanmu yang agung, dan ambillah ilmu syariat dengan sanad yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Berpindah dari hati ke hati dan tidak didapat kecuali dari hati para ulama.”
Kutipan ini menegaskan bahwa ilmu agama sejati tidak bisa dipisahkan dari sanad dan transmisi qalbu. Ia bukan sekadar informasi, tetapi transformasi.
Ilmu Sains: Buah dari Pengamatan dan Kreativitas
Berbeda dengan ilmu agama, ilmu sains adalah hasil dari pengamatan, eksperimen, dan kreativitas manusia. Ia lahir dari rasa ingin tahu terhadap alam semesta, terhadap hukum-hukum fisika, kimia, biologi, dan teknologi. Ilmu sains tidak memerlukan sanad ruhani, karena ia tidak bersumber dari wahyu, melainkan dari ciptaan Allah yang bisa diamati oleh siapa saja.
Ilmu sains adalah manifestasi dari akal yang bekerja. Ia berkembang melalui metode ilmiah, melalui pengujian hipotesis, melalui data dan statistik. Ia bersifat objektif dan bisa diuji oleh siapa saja, kapan saja. Dalam pandangan sufistik, ilmu sains adalah bagian dari tajalli Allah dalam bentuk ciptaan-Nya. Ia adalah ayat-ayat kauniyah yang bisa dibaca oleh mata dan akal.
Namun, meski ilmu sains bisa diraih oleh siapa saja, ia tetap harus digunakan dengan hikmah. Tanpa bimbingan qalbu, ilmu sains bisa menjadi alat untuk merusak, bukan memperbaiki. Ia bisa menjadi pedang bermata dua. Oleh karena itu, para sufi tidak menolak ilmu sains, tetapi menempatkannya di bawah bimbingan ilmu agama. Akal harus tunduk kepada qalbu, agar ilmu sains tidak menjadi tirani logika yang membutakan hati.
Jalan Qalbu dan Jalan Akal
Dalam sufisme, qalbu adalah pusat dari kesadaran ruhani. Ia adalah tempat turunnya ilham dan cahaya. Akal, meski mulia, hanyalah alat untuk memahami dunia luar. Qalbu memahami dunia dalam. Maka, ilmu agama harus masuk melalui qalbu, karena ia berbicara tentang hakikat, tentang Tuhan, tentang akhirat. Sedangkan ilmu sains masuk melalui akal, karena ia berbicara tentang dunia, tentang sebab-akibat, tentang materi.
Para sufi seperti Imam Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan Ibn Arabi menekankan pentingnya keseimbangan antara akal dan qalbu. Mereka tidak menolak akal, tetapi menempatkannya sebagai pelayan qalbu. Sebab akal bisa salah, bisa tertipu oleh ilusi dunia. Qalbu yang bersih, yang tersambung kepada Allah, adalah kompas yang tidak pernah meleset.
Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah Cicalengka bukan hanya tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tempat menempa jiwa. Didirikan oleh KH. Q. Ahmad Syahid (rahimahullah). Pesantren ini tumbuh dari cinta kepada Al-Qur’an dan semangat untuk menyebarkan cahaya-Nya. Dengan sanad qira’at yang kuat dan thariqah yang bersambung, Al-Falah menjadi tempat di mana ilmu agama ditanamkan melalui qalbu, bukan hanya akal. Namun Al-Falah juga tidak menutup diri dari ilmu dunia. Dengan jenjang pendidikan formal dari TK hingga perguruan tinggi, para santri juga dibekali dengan ilmu umum, agar mereka bisa menjadi khalifah di bumi dengan ilmu yang seimbang. Di sinilah letak keistimewaannya: menyatukan dua sayap ilmu, agar manusia bisa terbang menuju kesempurnaan.
Guru: Cermin Cahaya Ilmu
Dalam pencarian ilmu agama, guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah cermin cahaya. Ia adalah pembimbing ruhani yang menuntun murid dari kegelapan menuju cahaya. Tanpa guru, seorang murid bisa tersesat dalam ilusi ilmu. Sebab ilmu agama bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi tentang rasa, tentang kehadiran, tentang maqam dan hal.
Guru yang memiliki sanad adalah penjaga warisan Rasulullah. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan adab, menuntun murid untuk mengenal dirinya, mengenal Tuhannya. Guru yang bersanad adalah ulama minal awliya, yang cahaya Al-Qur’an telah masuk ke dalam hati mereka, bukan sekadar berhenti di kerongkongan. Mereka adalah para pewaris hakiki, yang menyampaikan ilmu dengan nur yang hidup, bukan hanya dengan hafalan. Dalam tradisi sufi, seorang murid harus fana di hadapan gurunya, agar ia bisa baqa bersama Allah. Ini bukan penghambaan kepada manusia, tetapi pengosongan diri agar cahaya bisa masuk.
Dalam tradisi Al-Falah, guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah pewaris cahaya. Ia adalah penjaga sanad. Para santri diajarkan untuk menghormati guru, karena dari lisannya mengalir ilmu yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ, Rasulullah ﷺ dari Allah Swt. Dalam thariqah, guru adalah mursyid yang menuntun murid melewati jalan-jalan batin, membersihkan hati dari karat dunia, hingga qalbu menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.
Tanpa guru yang bersanad, ilmu agama bisa menjadi kering, bahkan menyesatkan. Sebab ilmu agama bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi tentang rasa, tentang kehadiran, tentang maqam dan hal. Di Al-Falah, sanad ini dijaga dengan penuh cinta dan adab, agar cahaya yang diterima tetap murni dan tidak tercampur hawa nafsu.
Satu Mata Air
Pada akhirnya, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi, semuanya bersumber dari satu asal: Allah SWT, yang kemudian menganugerahkannya kepada Rasulullah ﷺ sebagai perantara cahaya dan hikmah bagi umat manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam Qasidah Burdah, “Wa kullun min Rasulillahi multamisun, gharfan minal bahri aw rashfan minal dhamami” -“Dan semuanya mengambil dari Rasulullah, baik berupa tegukan dari lautan maupun setetes dari hujan.” Bait ini mengandung makna yang mendalam: bahwa segala bentuk ilmu, baik yang bersumber dari wahyu maupun yang lahir dari pengamatan terhadap ciptaan-Nya, merupakan pancaran dari cahaya kenabian yang berasal dari Allah SWT.
Rasulullah ﷺ adalah penerima utama dari ilmu dan hikmah Ilahiah. Para pencari ilmu, baik melalui jalan qalbu maupun jalan akal, sejatinya sedang meneguk dari samudra yang telah Allah limpahkan kepada beliau. Maka, sains dan teknologi bukanlah sesuatu yang terpisah dari agama, melainkan bagian dari tajalli (manifestasi) cahaya Rasulullah ﷺ yang memancar ke seluruh penjuru zaman. Di pesantren seperti Al-Falah Cicalengka, kesadaran ini senantiasa dijaga, agar ilmu dunia tidak kehilangan ruhnya, dan ilmu akhirat tetap berpijak pada realitas kehidupan. Semua ilmu yang dimiliki Rasulullah ﷺ berasal dari Allah SWT, beliau adalah khairu khalqillah, sebaik-baik ciptaan Allah.

Editor
Artikel Lainnya
Perbaikan Item